JURNALMERDEKA.id – PANGKAL PINANG. Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan tengah memacu program SMK Go Global. Program direktif Presiden dan Wakil Presiden ini menargetkan pelatihan berjenjang bagi 500.000 orang dari tahun 2026 hingga 2029 mendatang.
Kepala BP3MI Sumatera Selatan, Waydinsyah, menegaskan bahwa program ini terbuka lebar untuk masyarakat luas. Walaupun membawa nama SMK, lulusan universitas maupun masyarakat umum tetap dapat mendaftarkan diri.
“Ini adalah program Direktif Presiden dan Wakil Presiden terhadap SMK Go Global. SMK Go Global, branding-nya, namun tidak hanya lulusan dari SMK yang boleh ikut pelatihan kita, tapi umum pun juga bisa dari universitas,” ujar Waydinsyah saat ditemui di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Pangkalpinang, Jumat (4/9/2026).
Waydinsyah menjelaskan, kementeriannya mendapatkan target awal untuk melatih 40.000 orang di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2026. Program ini pun telah resmi berjalan pasca peluncuran serentak (kick-off) nasional pada 26 Agustus 2026 lalu.
“Itu baru batch 1, kita akan ada lagi sampai ke semester terakhir ini untuk batch 2-nya dengan ada beberapa gelombang. Kuota nasional 40.000 orang tersebut dibagi ke 23 balai di 23 provinsi,” jelasnya.
Untuk wilayah kerja Balai Sumsel sendiri, pihak pengelola mengalokasikan kuota sebanyak 540 orang. Pihak balai menyebarkan para peserta ke 11 lembaga pelatihan, termasuk berkolaborasi dengan jajaran Dinas Tenaga Kerja setempat.
Saat ini, sekitar 300 orang telah mengisi bangku pelatihan yang terbagi dalam lima kelas di tiga provinsi. Waydinsyah optimis penyerapan program di wilayahnya mampu menyentuh angka 100 persen hingga akhir tahun ini.
Ia juga menekankan bahwa program ini menerapkan sistem asrama (boarding). Peserta wajib fokus penuh dan menetap di tempat pelatihan yang difasilitasi infrastruktur memadai, baik melalui skema kerja sama sesama instansi pemerintah (tipe 2) maupun universitas swasta (tipe 3).
“Memang tujuannya bukan hanya sekedar melatih, tapi untuk di tempat kerja. Perlu digarisbawahi. Kami sudah ada job order-nya, sudah ada PT yang untuk merekrutnya, kita latih,” cetus Waydinsyah.
Terdapat tiga tahapan komprehensif dalam program ini, yakni pelatihan bahasa, pelatihan keahlian (skill), hingga pemberian sertifikasi resmi. Saat ini, minat tertinggi peserta berpusat pada sektor perhotelan (hospitality), pengelasan (welder), pengemudi (driver), serta pengasuh (caregiver) untuk negara tujuan seperti Jepang.
Melihat peluang besar ini, Waydinsyah mendorong jajaran Disnaker Kota Pangkalpinang dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk bersiap menyerap kuota yang lebih besar pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini perlu didukung dengan penyiapan lembaga pelatih seperti BLK maupun SMK Negeri.
“Intinya ini adalah kesempatan, salah satu beasiswa dari pemerintah melalui kementerian P2MI. Benar-benar mempersiapkan diri sama pelatihan ini, lulus, dapat sertifikasi dan siap untuk bekerja di luar negeri. Ini tidak dipungut biaya sama sekali,” imbaunya.
Terkait keamanan para pekerja selama berada di negara penempatan, Waydinsyah memastikan bahwa negara telah hadir memberikan kepastian jaminan hukum yang jelas dan terstandarisasi.
“Kita memang negara-negara yang kita tempatkan sesuai dengan pelatihan yang kita buat, itu memang sudah ada pelindungannya antara 2 negara, antara Indonesia dan negara-negara yang ditempatkan. Kita sudah ada semacam kesepahaman,” tegasnya.
Pihak BP3MI berkomitmen melakukan pengawalan berlapis secara konsisten untuk memastikan keselamatan para pekerja migran.
“P2MI adalah pelindungan itu ada sebelum berangkat, kita kawal, selama dia bekerja di sana, tetap ada pengawasan. Pada saat dia pulang juga kita berikan pelindungan, sampai benar-benar dia aman pulang ke daerahnya,” pungkas Waydinsyah.














Komentar